Stars of Destiny Indonesia

Yo ! SuikodenGamers Indonesia !! Let's join !!
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  GalleryGallery  FAQFAQ  SearchSearch  MemberlistMemberlist  UsergroupsUsergroups  RegisterRegister  Log inLog in  
Log in
Username:
Password:
Log in automatically: 
:: I forgot my password
Who is online?
In total there is 1 user online :: 0 Registered, 0 Hidden and 1 Guest

None

Most users ever online was 24 on Mon Jun 24, 2013 12:15 am
Poll
Hero mana yang paling kmu suka??
Riou Genkaku
65%
 65% [ 22 ]
Tir Macdohl
6%
 6% [ 2 ]
Hugo
0%
 0% [ 0 ]
Chris LightFellow
3%
 3% [ 1 ]
Geddoe
0%
 0% [ 0 ]
Lazlo En Kuldes
6%
 6% [ 2 ]
Kyril
3%
 3% [ 1 ]
Freyjadour Falenas
18%
 18% [ 6 ]
Total Votes : 34
Top posters
MythNinja (681)
 
Evelyn PriciliArisato (520)
 
Kiky Saiya -V- Falenas (312)
 
Zeinhart McDohl (288)
 
Kyoshi Hanamura (239)
 
Athena (225)
 
blackloverz (210)
 
Little Frog (158)
 
Natsumi~Natsu no Tenshi~ (140)
 
fadzz (133)
 
Navigation
 Portal
 Index
 Memberlist
 Profile
 FAQ
 Search
September 2018
MonTueWedThuFriSatSun
     12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
CalendarCalendar
SuikodenChat

ShoutMix chat widget

Share | 
 

 Officially Luca Blight Childhood

Go down 
AuthorMessage
pahing! Silent Mage
Chiretsu Star
avatar

Male Number of posts : 37
Age : 26
Location : Holy Kingdom Of Harmonia
Job/hobbies : Member The Wizard Of Odd/It's All About Music
Motto : Do Thing As They Come
Registration date : 2009-03-07

108 Stars of Destiny
108 SoD: The Wizard Of Odd

PostSubject: Officially Luca Blight Childhood   Wed Mar 25, 2009 9:00 pm

Bagian Penting

Bukit yang dinodai dengan merah darah. Pekikan penderitaan, rintihan keputusasaan, tangis kematian… Di tengah tanah yang terkutuk ini berdiri seorang pria. Dengan badan kekar yang dilapisi armor perak, ia memandang dengan tajam, pupil hitam bagaikan serigala kelaparan.

Karena semburan darah dari korbannya, membuat warna armor peraknya tidak berbeda dengan warna tembaga.

Ketika para pria dan wanita berusaha menyelamatkan diri mereka, laki-laki itu menarik tengkuk leher mereka dan menusukkan pedangnya sedalam mungkin sampai menembus punggung mereka. Seolah-oalh membantai binatang, ia dengan santai mencabut hidup manusia. Tapi baginya, itu bukanlah tindakan sadis, melainkan seperti pekerjaan. Dan juga, senyuman sinis terpampang di wajahnya.

Anak buahnya yang berada disana hanya dapat melihat dari kejauhan. Tak satu pun dari mereka ingin membayangkan hukuman apa yang akan mereka terima jika mengganggu kesenangannya.

Nyawa yang telah diambilnya, diberikan pada rune yang bercorak binatang buas. Setiap kali seseorang dikorbankan, maka kekuatan rune itu meningkat. Pria itu mengetahuinya dan dia senang akan hal tersebut.

17 tahun telah berlalu sejak dia berdiri di bukit ini.

Tindakan ini bukan merupakan balas dendam, melainkan kosekuensi dari jalannya yang dia pilih.

Tetapi sekarang, bukit yang diwarnai dengan merah darah dari penduduk setempat, pria itu tentu saja merasakan perasaan aneh dan kepuasaan. Dia terus merasakan bara api dalam hatinya yang selalu membuatnya sedikit tenang

Itu semua dimulai dari bukit ini… Musim Semi 17 tahun yang lalu…


Chapter 1

Seorang anak laki-laki yang sudah menunggu hari ini selama berbulan-bulan

Anak laki-laki dan orang tuanya, atau melainkan, Raja dari Kerajaan Highland, Agares Blight, Ratu Sara, dan Pangeran Luca telah diundang ke perjamuan di Kota Muse, Jowston City-States.

Walaupun City-States of Jowston Dan Kerajaan Highland menandatangani persetujuan gencatan senjata 15 tahun yang lalu, susah untuk dikatakan kalau mereka mempunyai hubungan baik. Ini adalah, pertama kalinya Luca Blight yang berumur 10 tahun, pergi meniggalkan Teritori Highland.

Dua hari setelah meninggalkan ibu kota kerajaan L'Renouille, Kereta yang dikendarainya bergerak tanpa masalah sampai ke City-States

Meskipunpun mereka hanya menyeberang perbatasan nasional, hal yang ia lihat, dengar… bahkan udaranya terasa berbeda. Luca mengeluarkan kepalanya ke luar dari jendela kereta. Angin Musim Semi yang dingin bertiup menabrak pipinya, rambut hitamnya pun berantakan. Tidak mampu melebarkan matanya, ia memandang sekitarnya dengan mata sipit.

Pegunungan yang selalu dia lihat di timur kini di berada di barat. Di bagian atas gunung yang selimuti oleh kabut tipis, bunga liar sedang bermekaran. Ditutupi dengan warna hijau dan terdapat warna pink dan kuning. Luca menghirup udaranya dan mencium bau rumput segar, tapi seperti yang dia bayangkan, dia tidak dapat mencium bau bunga.

"Apa yang kamu lakukan? Kamu kelihatan tidak tenang."

Duduk di sebelahnya, ibu Luca berkata dengan nada yang tenang. Kata-katanya mungkin terdengar kasar, tapi dia mengatakannya dengan suara lembut.

Yang mengendarai kereta itu adalah Luca, ibunya, Sara, dan dua pembantu. Ayah Luca mengendarai kereta yang tepat di depan mereka.

"Maaf. Banyak yang aneh."

Dia menarik kepalanya lagi dan menutup jendela kereta.

Ibu Luca mengembil tangan Luca dan meletakannya di pangkuannya.

Kulitnya yang putih seperti gading, rambut Sara di ikat tinggi. Dia mengenakan gaun coklat yang elegan yang khusus di pakai dalam perjalanan. Sara berusaha dengan keras berakting marah, akan tetapi bukti dia tersenyum terlihat jelas di sudut pupilnya yang hitam.

Jarang mendapatkan kesempatkan untuk dekat dengan ibunya, Hati Luca berdebar merasakan kehangatan tangan ibunya.

"Benar juga, bukankah ini pertama kalinya kamu datang ke Kota Muse? Tapi sebagai bagian dari Highland Royal Family, kamu harus menjaga harga dirimu. Tentu saja, kamu mengerti?"

"Baik, ibu."

Sang ratu tersenyum mendengar jawaban anaknya. Melihat senyuman hangat ibunya, mengisi hatinya dengan kegembiraan.

"Aku sangat senang karena dapat mengendarai kereta ini bersama ibu dan berpergian dengan ayah."

Luca sangat bersyukur kerena mendapat kesempatan untuk menghabiskan waktunya dengan orang tuanya yang selalu sibuk dengan urusan kerajaan.

Orang-aorang berkumpul di rute ke Kota Muse, mempersilakan kedatangan keluarga bangsawan itu. Raja Highland beserta keluarganya, mengunjungi City-States of Jowston adalah hal hal yang tidak bisa dibanyangkan.

Luca dan ibunya melambaikan tangan mereka dari jendela kereta pada orang yang berdiri di tepi-tepi jalan.Toko-toko kecil dan perumahan letaknya berantakan, tidak teratur seperti di ibu kota, L'Renouille. Sangat aneh tempat ini adalah ibu kota Muse.

Orang-orang berkerumunan di tepi jalan tersenyum dan melambaikan tangan mereka juga. Ditengah-tegah kerumunan orang berdiri seseorang melambaikan bendera Highland. Jendela-jendela pada rumah di rute itu di buka semuanya, dan potongan kertas warna berterbangan, seperti menari di udara.

Kereta itu berhenti di kaki bukit. Dari situlah, mereka berjalan kaki. Tempat yang di kenal dengan Jowston Hill, tempat dimana city-states mengadakan pertemuaan resmi mereka.

Dengan pakaian yang rapi di ruang tunggu, Luca dan Sara duduk di bangku belakang, mendengar, dan melihat dengan cermat.

Disekeliling meja panjang yang terletak di tengah ruangan ada patung armor yang bagus, oarng yang berpakaian tak lebih dari seorang pengusaha, dan utusan resmi, oarnag yang berpakain resmi itu berkumpul di meja. Ada sekitar 30-an orang.

Luca mengetahui bahwa City-States of Jowston terdiri dari 6 bagian. Mereka pasti utusan dari 6 bagian itu, dan rekan dekat mereka. "Tanpa pertemuan besar ini, City-State of Jowston tidak dapat memutuskan apa-apa. Tapi di Highland, ayah sendirian yang membuat keputusan untuk semua masalah." pikir Luca.

Luca teringat dengan pelajaran diskusi minggu lalu tentang susunan dan sturktur City States of Jowston, itu membuat dia merasa iba terhadap City States karena tidak memiliki pemimpin secerdas ayahnya.

"Yang Mulia, Raja Agares Blight dari Kerajaan Highland!"

Pada saat itu juga terdengar suara riuh, pintu pertemuan itu di buka dan masuknya ayah Luca, yang di temani oleh orang kepercayaannnya. Dalam sekejab suara itu berhenti. Orang yang duduk di kursi segera berdiri dan mempersilakan Sang Raja dengan tepuk tangan. Badannya yang besar yang diselimuti oleh mentel bulu, dan mengenakan mahkota yang simpel, dia berjalan ketengah tepukan tersebut, memperlihatkan harga dirinya lebih dari siapa pun.

"Wow, ayah hebat!" pikir Luca

Terpesona dengan hebat, hampir menyakitkan, mengalir di jantung anak laki-laki itu. Ia tidak percaya bahwa ia adalah putra dari ayah yang hebat seperti itu. Luca pun juga gabung dalam tepuk tangan.

Ketika ayahnya duduk kursi tengah, pertemuan dimulai. Pembicara utamanya adalah Darrel, walikota Muse City dan juga City States of Jowston.

Dibandingkan dengan formalitas di Kerajaan Highland , Pertemuan City-States' adalah lebih sederhana, dan percakapan jauh lebih langsung dan lebih mudah untuk menginterpretasikan. " Saat ini juga, mari kita mengucapkan sumpah damai abadi antara Kerajaan Hiahland dan City States of Jowston," kedengarannya seperti itu.

Utusan dari masing-masing city-state dan Raja mengucapkan sumpah mereka; ketika Raja Dan Darrel menandatangani kontrak itu, meraung sorak dan tepuk tangan bangkit di ruang rapat. Sepertinya acara penandatanganan kontrak itu tanpa rintangan.

"Aku berharap acara di rumah bisa sederhana ini," berkomat-kamit Luca dengan tidak senang.

Sebab pertemuan di Highland, adalah kebiasaan untuk personil yang penting dari Holy Kingdom of Harmonia untuk datang dan diskusi panjang pada siapa yang mengetahui apa. Tetapi sekarang, Luca hanya berusaha untuk tetap terjaga.

Setelah acara itu, mereka pindah ke ruang lain untuk perjamuan. Suatu pesta agung telah disiapkan di atas meja yang sangat besar. Bahkan mereka yang duduk punggung sepanjang acara tadi hadir. Orang-Orang, berpakaian sopan, mengangkat gelas mereka dan terlibat dalam percakapan menyenangkan. Di dalam ada banyak kemenangan dan tumpukan makanan.

Memegang gelas yang di isi dengan anggur, ayah dan ibu Luca dikelilingi oleh sejumlah besar orang-orang. Ibunya berpakaian suatu pakaian hijau gelap cocok dengan kulitnya yang seputih gading, dan tiara menghiasi dahinya. Dia tentu saja menarik perhatian, semua lain wanita di sana tampak pucat jika dibandingkan. Dan disebelahnya adalah ayah Luca, penuh keagungan; senyumannya terlihat setiap kali ia berbicara. Anak laki-laki hanya dapat mengamati orang tuanya.

"Pangeran Luca, apakah kamu bosan?"

Suara yang mendadak mengejutkan Luca, membuat dia berdiri dari tempat duduknya di sudut hall. Di depan dia berdiri Darrel dari upacara.

"Tidak ada, sama sekali tidak…," omel Luca dalam tanggapannya.

Kendati bentuk badan Darrel, pandangan matanya, menunjukan dia merencanakan sesuatu yang jahat. Luca tidak tahan akan pandangan itu.

"Aku akan memperkenalkan putriku, Anabelle. Dia yang jauh lebih seumur denganmu dibanding aku, barangkali dia akan jadilah mitra percakapan baik."

Dengan isyarat Darrel, seorang anak perempuan muda yang memakai celana seperti seorang laki-laki dan suatu kain di atas kepalanya seperti rakyat biasa. Umur mereka mungkin tidak beda terlalu jauh, tetapi masih nampak enam atau tujuh perbedaan umur antara mereka. Dengan mata besar dan hidung, dia memasang muka serius. Luca menemukan sedikit keanehan untuk anak seorang walikota dalam pakaian seperti itu.

"Aku Anabelle. Senang bertemu denganmu."

Dia dengan segera bersiap-siap berjabat tangan.

Ketika seorang perempuan dari status sosial tinggi menawarkan tangan, telah dipertimbangkan etiket untuk mencium punggung dari tangannya. Tentu saja, seorang putri walikota pasti diperlakukan dengan cara yang tak jauh berbeda dari kebangsawanan. Setelah menyimpulkan, Luca, mengharapkan etiket yang sesuai, dia menarik kaki kirinya dan mengangkat tangan Anabelle dengan tangan kanan nya. Pada saat itu…

Anabelle mengeram tangan Luca dengan sekut tenaga, dan menhempasnya.

Pipi Luca terasa membara.

Luca marah sepanjang perjalanan pulang di kereta. Ketika Luca mencoba untuk menciuman tangan Anabelle, dia menjabatnya dengan penuh ancaman, menampar wajah Luca, karena ia adalah pendek. Orang yang lain hanya dapat melihat Luca sebagai orang aneh, terus menerus menampar wajahnya.

Walaupun Anabelle segera minta maaf, Luca tidak bisa memaafkannya. Setelah itu, Anabelle mencoba untuk bercakap-cakap dengan dia sekitar berbagai berbagai hal, tapi Luca mengabaikannya sepenuhnya.

"Dia tidak mempunyai tatakrama, pendidikan macam apa yang dia pelajari!? Di Highland, dia mempunyai dipanggil he-she, dan semua orang akan mencerca nya!" pikir Luca.

Harga dirinya yang terluka masih menyakitkan. Ia mengulangi peristiwa itu tak terbilang banyaknya di dalam kepalanya; mengucapkan seberapa malunya dia yang hampir membuat dia ingin mati.

"Hmph," Luca menghela dengan nyaring.

"Apakah kamu baik-baik saja, Luca?" Kamu kelihatan tidak bersemangat sejak kemarin."

Ketika Luca mengangkat matanya, ia melihat ibunya memperhatikannya dengan cemas.

Seperti halnya ketika mereka memulai perjalanan, Luca dan ibunya mengendarai kereta yang sama, tetapi sekarang dengan dua para pelayan wanita. Kusir dan pengawal berada di luar di atas tempat duduk pengemudi, di luar dari penglihatan Luca.

"Tidak apa-apa. Aku hanya sedikit capek."

Luca tersenyum dengan canggung.

"Kamu baik-baik saja, kan? Kita telah berjalan tanpa istirahat untuk beberapa waktu. Setelah kita melewati perbatasan nasional, Aku akan menyediakan tenda untuk kita. Itu tidak akan lama sampai saat itu, Luca."

Ibu Luca menyelimutinya dengan selimut dan mengelus kepalanya dengan lembut.

"Ini akan sedikit lebih nyaman. Jika kamu dapat tidur seperti ini, tidurlah."

Ketika kerutan di keningnya dalam keraguan, Luca menjadi malu sekali untuk beberapa saat. Pada waktu yang sama, kekesalan di hatinya menjadi hilang.

"Aku benar-benar beruntung untuk mempunyai ibu yang sangat baik."

Pikiran itu, maka Luca membenamkan wajahnya di dalam selimut.

Ketika akan kembali ke L'Renouille, ia akan dikepung oleh sejumlah besar orang-orang yang sama setiap hari. Luca bukan lagi anak kecil yang suka dimanja oleh ibunya di depan orang lain.

Luca berpura-pura untuk tidur nyenyak, dan bersandar pada bahu ibunya. Badan Sara merasakan nyaman dan lembut, dan dia mencium bau yang enak. Diselimuti kehangatan yang menenangkan, Luca tertidur nyenyak tanpa dia sadari.

Perasaan khawatirnya muncul, Luca membuka mata nya.

Kereta dipacu dengan meluap-luap. Bunyi roda bergema perutnya, lehernya diguncangkan naik turun seolah-olah dicabut. Lampion di dalam kereta membuat suara yang berisik. Ketika hampir jatuh dari tempat duduknya, Luca dengan segera memegang erat pintu kereta.

"I, Ibu. Apa ini? Apa yang terjadi?"

"Terima kasih Tuhan, kamu bangun."

Suara ibunya terdengar lebih keras dari biasanya. Dua pelayan wanita di bangku depan berteriak histeris.

"Dengarkan ini dengan tenang, Luca. Kereta ini diserang oleh para bandit."

"Bandit?"

"Mungkin mereka adalah bandit gunung ataupun pembunuh bayaran, Aku tidak yakin. Kita dikepung. Kelihatanya kita tidak dapat dilepaskan mereka."

"Mengapa?"

Luca tidak bisa memahami apa yang ibunya sedang berusaha menjelaskan. Meskipun masih pusing dari bangun yang tiba-tiba, ia tidak bisa percaya ada orang-orang yang akan mencoba untuk menyakiti mereka Walaupun masih banyak yang ingin dia tanyakan, Luca kehilangan kata-kata.

"Kereta ini akan segera berhenti. Larinya sebelum itu. Lindungi kepalamu dengan kedua tanganmu dengan erat sehingga tidak terjepit di roda kereta."

"Bukankah ibu akan ikut?"

"Tidak. Seorang perempuan seperti aku hanya akan memperlambatmu. Aku akan mencoba untuk menarik perhatian mereka untuk selama mungkin. Aku ingin kamu melarikan diri sendirian."

TO BE CONTINUED!!!
Back to top Go down
View user profile
Athena
Chima Star
avatar

Female Number of posts : 225
Age : 23
Location : in my home
Job/hobbies : student
Registration date : 2008-12-05

108 Stars of Destiny
108 SoD:

PostSubject: Re: Officially Luca Blight Childhood   Thu Mar 26, 2009 4:10 pm

Waaa! Crita na hampir sm kyk masa lalu na si chloe(tales of legendia). Tragis na(sdh bs membayangkan). Pengen tw kelanjutan na.
Back to top Go down
View user profile http://www.friendster.com/athenalemouri
pahing! Silent Mage
Chiretsu Star
avatar

Male Number of posts : 37
Age : 26
Location : Holy Kingdom Of Harmonia
Job/hobbies : Member The Wizard Of Odd/It's All About Music
Motto : Do Thing As They Come
Registration date : 2009-03-07

108 Stars of Destiny
108 SoD: The Wizard Of Odd

PostSubject: Re: Officially Luca Blight Childhood   Sat Mar 28, 2009 2:05 pm

di tungguin...sore gw updatein lagi..tgg aja..eh, ini bukan fanfic gw, tpi ini gw dptin dri suikosource What a Face
Back to top Go down
View user profile
pahing! Silent Mage
Chiretsu Star
avatar

Male Number of posts : 37
Age : 26
Location : Holy Kingdom Of Harmonia
Job/hobbies : Member The Wizard Of Odd/It's All About Music
Motto : Do Thing As They Come
Registration date : 2009-03-07

108 Stars of Destiny
108 SoD: The Wizard Of Odd

PostSubject: Re: Officially Luca Blight Childhood   Sat Mar 28, 2009 5:41 pm

Chapter 2 :

"Bagaimana aku bisa...!? Aku tidak akan pergi tanpa ibu!"

"Aku tahu ini susah, tapi cobalah mengerti apa yang kukatakan."

" Tidak~! Aku ingin bersama-sama dengan ibu!"

Ketika Luca berkata begitu, rasa sakit yang tajam terasa di pipinya. Tanda yang ditinggalkan oleh sakit itu berangsur-angsur menjadi panas. Ibunya menampar dia. Dia meremas bahu Luca dan memandang dia tepat dimatanya. Wajahnya terlihat sangat serius, tetapi indah pada waktu yang sama.

"Dengarkan dengan baik, Luca Blight. Kamu adalah pangeran dari Kerajaan Highland. Hidupmu tidak milikmu sendiri. Kamu memegang tanggung jawab besar pada warga Highland. Para bandit itu pasti tidak terlalu kejam untuk mengambil nyawa dari seorang perempuan seperti aku ini. Tetapi jika mereka menangkapmu maka nyawamu akan hilang"

Luca yang tidak lagi dipenuhi rasa untuk membalas. Ibu nya secara cepat dan efisien membungkus dia di dalam selimut, mencium dia di dahi, dan membuka pintu kereta. Angin bertiup dengan ganas. Angin menjadi sedikit lebih tenang sekarang, tetapi kereta masih berjalan terus pada suatu kecepatan tinggi.

" Aku menyayangimu, Luca."

Dlam sekejap setelah mendengar bisikkan ibu di dekat dengan telinganya, Luca telah didorong oleh kekuatan besar dari di belakang.

Badan diguncangkannya dan menggulung terhadap tanah. Tidak dapat diperhatikan dengan jelas dimana langit dan tanah. Seperti yang di intruksi ibunya, Luca melindungi kepalanya dengan kedua tangannya. Suara gaduh dibuat oleh roda kereta dan suara kaki kudanya bandit terdengar mendekat, tetapi dengan cepat menjauh. Badan Luca terasa sakit.

Sekitar, hampiran diselimuti kegelapan malam. Luca sembunyi di bawah selimut, mengigil setiap waktu. Takut akan kematian, yang belum pernah dia rasakan, memukulnya.

Tidak jauh dari tempatnya, Luca mendengar pekikan kengerian dari perempuan.

" Apa yang sebaiknya aku lakukan... Bagaimana jika mereka membunuh ibu?"

Luca terlalu takut untuk membayangkan apa yang mereka lakukan pada ibunya. Diselimuti oleh perasaan takut dan keputusasaan, air mata pun mengalir.

" Suara itu… Itu suara ibu. Dia pasti sedang meminta bantuan."

Dengan pemikiran itu, Luca sanggup berdiri, tetapi tubuhnya tidak mau bergerak meskipun dia coba. Meskipun dia percaya dengan kemampuan berpedangnya, meskipun intrustor banga dengan kemampuannya, badannya tidak mau bergerak. Luca telah di ikat dengan ketakutan.

"Tolong, siapa saja..."

Menutup telinganya sekuat mungkin dan membisikan semacam doa, anak muda itu terus menerus gemetar, menunggu bantuan datang.


Pengawal Kerajaan Highland datang di pagi buta. Luca ditemukan dalam keadaan membungkuk, menggigil dalam teror ketakutan di kaki pohon dekat jalan besar.

Luca segera dinaikan ke atas kereta, menerima perawatan untuk semua luka-lukanya pada tubuh dan mendapat hidangan hangat. Ia merasa seperti orang luar.

Sewaktu Luca tiba di ibukota kerajaan L'Renouille, dia sadar kembali setelah sampai di sana. Ia tidak percaya apa yang dia lihat di ruang tunggu tahta. Ayahnya duduk di sana, tanpa terluka sedikitpun maupun pakaian yang koyak . Hampir seolah-olah Ayahnya, tidak pergi ketempat kejadian, duduk di atas tahtanya setiap saat, dan tahu menahu tentang serangan bandit.

"Luca…Terimakasih Tuhan! Kamu selamat."

Suara ayahnya terdengar lebih rendah dari biasanya dan wajahnya memucat seperti kelilip ketakutan dan ditunjukan pada pandangannya. Ia meremas kedua tangganya bersama-sama sampai menjadi pucat dan ia pun mulai menggigil.

"Ayah, kamu menggigil. Mengapa…?"

Luca memandang ayahnya, yang menggigil dan mencengkeram bahunya, dan dalam ketakukan.

"Di mana ibu? Apakah dia baik-baik saja?"

"Sara, dia… Dia ditolong lebih cepat dari kamu. Dia tidak menderita luka-luka, tetapi yang dia alami adalah hal yang mengerikan, jadi biarkan ia beristirahat sekarang."

Tatapan Ayah Luca tidak menyakinkannya. Ia pasti sangat malu akan dirinya… mungkin dia menyembunyikan sesuatu."

" Dimana kamu ayah? Mengapa kamu tidak datang untuk menyelamatkan kami?"

Luca tidak bisa menahan nada cela di dalam suara nya.

"… Aku pergi untuk meminta bantuan. Aku tidak menyesali kerena tidak mampu menyelamatkan kamu; tetapi dengan tugas-tugasku sebagai Raja Highland, aku tidak boleh mati."

"Maka kamu tidak peduli apa yang terjadi dengan Ibu dan aku!"

Dilain pihak, Luca hanya berkata pada ayahnya; di sisi lain dia sangat terkejut berkata pada Raja Highland tanpa sopan santun. Pada saat yang sama, Luca merasakan gambaran ayah yang ia hormati mulai luntur.

"Aku tidak pernah berkata begitu. Ada terlalu banyak musuh pada waktu itu, dan kita tidak bisa menangani mereka sendiri."

"Makanya kamu melarikan diri!"

"Aku tidak melarikan diri! Aku pergi meminta bantuan!"

Ayah Luca's menjawab dengan lantang. Bagaimanapun, suatu kepastian di dalam pikiran Luca

"Kamu melarikan diri, ayah! Dalam ketakutan, kamu meninggalkan ibu dan aku di sana, melarikan diri hanya untuk menyelamatkan diri sendiri!

Luca kehilangan semua rasa hormat dan kepercayaan yang ia pernah mempunyai untuk ayahnya.

"Apakah ibu di kamarnya?"

Luca mencoba yang terbaik untuk bersikap santun, tetapi ayahnya menjadi lebih lagi gelisah.

"Seperti yang aku katakan, dia dalam tahap memulihkan diri dari goncangan dan masih tertidur. Dia tidak akan bisa melihat orang lain untuk sementara."

" Sementara? Berapa lama? Mengapa aku tidak boleh melihatnya?!"

Luca bertanya dengan kasar. Ia pun sedang berpikir bagaimana agar ibunya dapat pulih, agar ia bisa melihatnya besok. Ia tidak pernah membayangkan ayahnya untuk berkata seperti itu.

"Berapa banyak hari yang akan diambil tergantung pada kondisi Sara. Sampai hari itu, jangan ganggu ibumu; sampai aku bertaka baiklah, kamu tidak boleh melihat ibumu!""

" Tidak! Mengapa?!"

" Bagaimanapun itu! Ok?! Apakah itu jelas?!"

Ayahnya dengan pasti menyembunyikan sesuatu. Tetapi sebelum Luca mempunyai kesempatan untuk bertanya pada ayahnya apa itu bisa, ia telah meninggalkan kamar tunggu.
Back to top Go down
View user profile
pahing! Silent Mage
Chiretsu Star
avatar

Male Number of posts : 37
Age : 26
Location : Holy Kingdom Of Harmonia
Job/hobbies : Member The Wizard Of Odd/It's All About Music
Motto : Do Thing As They Come
Registration date : 2009-03-07

108 Stars of Destiny
108 SoD: The Wizard Of Odd

PostSubject: Re: Officially Luca Blight Childhood   Sat Mar 28, 2009 5:45 pm

Chapter 3 :

Agares Blight nampak menjadi gila di tengah-tengah kemarahannya. Yang dikonsumsi dengan hasutan emosional, tangannya tidak akan berhenti menggigil. Sebelum itu, ia tidak mampu menghibur putranya yang terluka.

Serangan terjadi tidak lama sesudah melintasi perbatasan nasional ke Highland. Dengan sepuluh bandit atau kira-kira begitu, di kereta masing-masing, mereka telah banyak mengendalikan situasi. Lagipula, menurut laporan yang dibuat oleh Pengawal Kerajaan, mayat bandit yand mati. Menunjukan mereka bukan bandit biasa melainkan berasal dari suatu pasukan.

Status politik Highland yang kukuh dan stabil, maka tidak ada alasan untuk militer untuk memulai perebutan kekuasaan, artinya serangan dapat dilakukan oleh Jowston City-States.

Walikota Darrel dari Muse terdaftarkan dalam pikiran Agares. Sepanjang perjamuan makan malam setelah pertemuan, wajah Darrel membuat senyuman yang curigakan. Beberapa rumor mengatakan ia menentang perjanjian gencatan senjata yang permanen pada akhirnya. Bahkan 15 tahun yang lalu, ketika Han dan Genkaku berusaha untuk membuahkan perjanjian gencatan senjata yang akhirnya datang ke penyelesaian, Darrel mencoba untuk menghentikan mereka melalui cara kotor.

Serangan kali ini, tanpa keraguan, dibuat oleh dia.

Sungguh sial, tidak ada bukti menyangkut hal itu. Pengambilan keputusan tanpa bukti akan membuat Highland-lah yang menghianati perjanjian gencatan senjata. City-States of Jowston akan memperoleh bantuan dari seluruh negara, dan menyerang tanpa keraguan. Highland akan membuat keseluruhan negara menjadi musuhnya, dan harus berperang dengan mereka sendirian.

Satu-satunya tindakan yang mungkin pada saat adalah menangkap bandit itu.

Tidak sedang mampu mengganti kejadian ini adalah hal yang paling memalukan.

Agares mengutuk dirinya. Andaikan ia tidak membawa putra dan isterinya ke pertemuan itu; melepaskan diri penyerbu adalah suatu perihal penting. Ia memperhitungkan bahwa sasaran mereka adalah dirinya, Raja Highland, dan jika ia melarikan diri, maka yang lain akan baik-baik saja.

Tetapi sekarang, itu tak lain hanya alasan yang bodoh.

Selama peristiwa itu, Sara menderita suatu hal yang tak mungkin disembuhkan. Dan aku, dan Luca…

Mengigat kembali kejadian tadi, putranya dari kepala sampai kaki dalam keadaan diperban, pandangan amarah, kesedihan, dan kemaluan yang dilontarkannya di ruang tunggu membuat hati Agares sakit.

"Lapor, Yang Mulia."

Salah satu dari Pengawal Kerajaan masuk ke tamu dan berlutut.

"Penyegel Perbatasan Highland di utara telah dilakukan. Dan besok pagi, persiapan untuk menyegel Perbatasan North Sparrow di selatan akan selesai.

"Pekerjaan bagus. Kamu boleh pergi sekarang."

Agares berbicara dengan dingin, dan membiarkan prajurit itu keluar.

Ia ingin menangkap penyerbu itu dengan cara apapun. Walaupun mereka menandatangani perjanjian gencatan senjata, tidak berarti mereka bisa dengan bebas menyeberang perbatasan nasional . Penyerbu yang terdiri lebih dari 50 tentara. Mereka tidak bisa dengan mudah menerobos perbatasan tanpa menarik perhatian. Pasti, mereka masih bersembunyi di suatu tempat di Highland, menantikan pengawasan militer lengah. Untuk menangkap mereka, Agares bermaksud menyiksa mereka sampai mengungkapkan siapa yang memberikan perintah untuk menyerang.


"AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN MEREKA LOLOS!!!" teriak Agares dengan penuh amarah di ruang kosong itu.

*

"Luca, selamat datang. Itu pasti pengalaman yang sangat menyakitkan untuk kamu."

Menantikan Luca dalam ruangnya yang besar, perempuan tua yang gemuk. Namanya Mariel, seorang pelayan lama keluarga Blight. Dia mula-mula datang sebagai pengasuh Sara; Sara membawanya ketika dia menikah ke dalam Keluarga Kerajaan. Mariel menjadi pengasuh eksklusif Luca ketika dia lahir. Luca menganggapnya seperti neneknya; berbagai hal yang ia tidak bisa ceritakan bahkan ibunya, ia akan mendiskusikan dengan Mariel.

" Mariel…"

Kelopak mata Luca yang pelan-pelan menjadi panas. Emosi yang dia berusaha menahan. Tidak tertahan lagi, Luca bertaut pada Mariel.

" I-I, Ibu…"

Luca ingin menceritaka segalanya - tentang melarikan diri dari kereta sendirian, tentang tidak mampu menyelamatkan ibunya… - dan akhirnya menjadi lega. Masih, ia terdiam. Ia tidak ingin dianggap penakut oleh Mariel. Takut akan ditinggalkan oleh Mariel terlalu besar.

"Luca, tidak perlu ragu-ragu. Ibumu daam tahap penyembuhan."

Pada saat itu Mariel berkata begitu, dia dengan lemah-lembut membelai kepala Luca.

Sensasi panas dari matanya menempuh perjalanan higga ke hidungnya, perassan mencekik lehernya menghilang. Luca tidak bisa bertahan lagi - bertaut pada Mariel, ia menangis seperti anak kecil. Mariel tetap mengelusl kepalanya, sambil menghiburnya.

"… Aku, menangis, seperti bayi."

Luca merasa canggung saat air matanya berhneti.

" Tidak Luca, kamu mengalami pengalaman yang mengerikan. Kamu adalah anak laki-laki yang sabar, tapi jika terus menahannya adalah hal yang bodoh. Tak apa-apa untuk menangis."

Mariel membersih wajah Luca dengan handuk. Setelah mendengar itu, Luca merasa lebih baik.

" Terima kasih, aku merasa lebih baik sekarang."

"Beberapa orang mengatakan bahwa laki-laki seharusnya tidak boleh menangis. Tetapi aku berpikir, dengan mengabaikan apakah laki-laki atau perempuan, menyimpan perasaan yang menyakitkan bukan hal yang baik. Walaupun, menjadi cengeng bukan hal yang baik juga."

Mariel membuat wajah marah. Luca tidak sadar pada mulanya sebab pandangannya kabur untuk memperhatikan wajahnya, tapi kelopak matanya memerah.

"Kamu menangis juga, Mariel?"

"Tentu saja. Setelah Luca dan Sara yang kusayangi menderita pengalaman mengerikan seperti itu, pasti aku akan menangis. Aku menyesali tidak mampu menemani kamu. Jika terjadi sesuatu dengan kalian aku tidak tahu aku akan bertahan."

Air mata berkumpul pada mata Mariel. Dia nampak siap untuk menangis sekarang. Kepada Mariel, Ibu Luca masih "Dear Sara."

"Aku keluar dari kereta duluan, maka saya tidak mengetahui apa yang terjadi pada Ibu. Ayah tidak menceritakan dan melarang aku melihatnya. Apakah lukanya parah? Dia tidak mati, kan?"

Luca merasa putus-asa. Mata Mariel memndang tempat lain sebentar. Milih kata-kata yang tepat...

"Tentu saja Sara masih hidup dan baik. Luka nya tidak parah; malang dia masih syok dari pengalaman yang kejam . Bahkan para pelayan dan coachman yang menemaninya dibunuh - itu adalah goncangan yang mengerikan.

Luca menelan nafasnya. Para pelayan yang bersama mereka di kereta yang menemani ibunya, ia tidak mengetahui, tetapi mereka hanyalah wanita-wanita muda. Apakah mereka melakukan hal yang salah sampai layak untuk dibunuh? Melihat semua orang dibunuh didepannya pasti membuat Ibu Luca merasa ngeri. Dia pasti merasa tidak dapat berbuat apa-apa.

TO BE CONTINUED!!!
Back to top Go down
View user profile
pahing! Silent Mage
Chiretsu Star
avatar

Male Number of posts : 37
Age : 26
Location : Holy Kingdom Of Harmonia
Job/hobbies : Member The Wizard Of Odd/It's All About Music
Motto : Do Thing As They Come
Registration date : 2009-03-07

108 Stars of Destiny
108 SoD: The Wizard Of Odd

PostSubject: Re: Officially Luca Blight Childhood   Mon Apr 13, 2009 8:43 pm

maaf...lama menguploadnya, okeh....di lanjutin kembali

Chapter 3 :
Kebencian bangkit dari dalam Luca.

"Siapa yang menyerang kami? Mengapa mereka melakukan itu?"

"Kita tidak mengetahui siapa pelakunya, tetapi kita sedang mencari-cari mereka dengan kebingungan."

"… mereka masih belum ditangkap?"


Karena Pengawal Kerajaan datang, Luca pikir mereka telah menangkangkap mereka. Tetapi setelah dipikir-pikir, mereka yang bersembunyi tanpa dihukum adalah hal yang mustahil.

" Tetapi sekarang dengan semua Perbatasan Nasional Highland ditutup dan rombongan pencari diberangkatkan, hanyalah masalah waktu sebelum mereka semua berkumpul. Aku pasti akan memnghajar mereka ketika waktunya datang."

"Mereka akan mendapatkannya dariku juga!"

Hati Luca terisi amarah terhadap penyerang tersebut.

"Bagaimanapunjuga, kita akan menghukum mereka dengan kejam, apa yang hilang tidak bisa kembali."

Apa Mariel memikirkan perkataannya?

"Hey, Mariel. Apakah akau boleh melihat ibu? Melihat wajahku mungkin akan membebaskan sebagian dari syok dan membuatnya merasa lebih baik. Apapun yang terjadi, dia selalu berkata seyum di wajahku sangat menghiburnya. Bisakah kamu merahasiakannya dari ayah, dan biar saya bertemu ayah diam-diam?"

Air mata membanjiri mata Mariel.


"Tidak, Luca, kamu masih anak kecil, maka kamu tidak akan memahami. Jika orang dewasa mengalami trauma mengerikan seperti itu, mereka ingin sendirian. Sekarang ini biarkan dia beristirahat dengan tenang."

Mariel membenamkan mukanya dicelemeknya dan menangis terisak-isak. Itu adalah giliran Luca menghiburnya.

Esok harinya, yang membagunkan Luca bukan Mariel.

"Kesehatan Mariel menurun, maka dia pulang ke kotanya. Dia berpesan pada aku untuk menjagamu dengan baik."

Ramaja yang muram dan dingin ini, John, akan menjadi pengasuh baru Luca.

Luca tidak percaya Mariel meninggalkan dia tanpa mengucapkan perpisahaan.

Luca menanyakan pada semua orang ia temui di istana tentang kondisi ibunya dan dimana Mariel. Tetapi tak seorangpun berkata lebih dari "Ibu akan segera pulih, tetapi dia tidak bisa dikunjungi sekarang. Sedangkan Mariel, kembali ke desanya." Kemudian mereja dengan cepat pergi dengan kepala menunduk. Beberapa akan segera menghindar begitu meluhat Luca. Seolah-olah hal tentang Ibunya dan Marial adalah hal tabu. Sepanjang makanan siang dengan ayahnya, mereka tidak pernah bicra lebih lanjut pada pokok materi sebab ia selalu menggunakan alasan “Aku terlalu sibuk." Luca yang akhir makan sendiri dan dijaga pengasuh yang menyedihkan.

Luca merasa kesepian. Ia biasanya seorang pemalu, dan hanya dapat berbicara jujur dari segenap hatinya pada ibunya dan Mariel. Dan sekarang, mereka telah pergi. Pendatang baru John tampak seperti pengawal, mengikuti dia ke mana saja ia pergi, dan jarang membuka mulutnya.

Luca bertahan dari itu selama sepuluh hari.

Pada malam hari yang kesepuluh, John berkata ia akan tidur lebih awal, maka ia menyuruh Luca tidur lebih cepat dari biasanya. Luca mengambil kesempatan ini untuk keluar tempat tidur. Ia mengintip ke dalam lubang kunci ke kamar John di sebelah; John sedang duduk di kursi sambil membaca buku sambil bersandar di pintu menuju ruang utama. Kamar Luca terletak paling dalam di lantai dua; ia tidak bisa kemanapun tanpa melalui kamar John. Tidak ada cara lain untuk pergi ke ruang utama tanpa diketahui John.

Tetapi, Luca mengetahui rute rahasia. Ia menemukan kebetulan ketika membolos pelajaran sejarah yang dibencinya. Mariel mengetahui rute itu, tapi John pasti tidak.

Luca mengenakan alas kaki paling ringan. Membuat bunyi sekecil mungkin, ia membuka jendela selebar mungkin. Genggam bingkai jendela serat mungkin dan mengeluarkan badannya keluar, kerongkongannya pada bingkai jendela ketika kakinya mencari pijakan. Ini adalah penonjolan sebagai dekorasi untuk dinding yang luar. Waktu yang lalu Luca mencoba, hidungnya pada bingkai jendela. Dalam tempat yang tak terduga, Luca mengetahui dia telah tumbuh besar.


Penonjolan itu cukup lebar untuk kaki Luca berjalan terus. Luca berpegang pada bingkai jendela yang dengan ketat dan mendorong kakinya ke seberang, berjalan seperti kepting. Ruang yang berikutnya adalah kamar tamu miliknya, setelah itu adalah Ruang John. Tirainya tertutup, tetapi Luca masih melintas dengan kepalanya menunduk. Ruang berikutnya adalah kamar ibunya.

Luca mengangkat kepalanya. Cahaya telah dipadamkan. Ia menggunakan cahaya dari luar untuk mengintip ke dalam, tetapi tak seorangpun sedang tidur di dalam. Ia mencoba mendorong terbuka jendela tetapi yang dia temukan jendelanya terkunci. Bergerakkan ke atas ruang yang berikutnya, Luca menemukan cahaya padam juga, dengan tidak ada satu di dalam.

"Apa yang sedang terjadi?"

Luca mendorong jendela itu . Yang ini tidak terkunci.

Ia masuk ke kamar itu dan melihat sekelilingnya.

Kamr itu bersih; tampak seperti tidak ada orang yang menghuninya sementara waktu. Ia pergi ke kamar tidur dan menemukan tempat tidur yang masih rapi dan tidak tampak ibunya tidur di sana. Dia menyentuh selimut ibunya dan memeluknya. Merasakan kehangatan ibunya yang dia rindukan.

"Ibu…"

Ketika dia mulai berbicara, tiba-tiba air matanya mengalir dan segera Luca melepaskan selimut itu.

Ia membuka lemari pakaian dan banyak pakaian yang hilang. Tidak salah lagi, ibunya meninggalkan kamar ini dalam waktu lama.

Luca kembali ke ruang tamu yang bersebelahan dan berjalan ke ruang utama . Ia tidak peduli lagi jika John melihatnya atau tidak. Untuk menjangkau ruang ayahnya di lantai ketiga, ia berlari ke ruang utama dan ke tangga. Pasti, pintu John terbuka dan ia datang berlari setelah Luca.

"Ayah!"

Luca mendobrak masik ke kamar Ayahnya.

" Di mana ibu sekarang?! Ke mana dia pergi?!"

Ayahnya sedang duduk sendiri di sofa di dalam ruang tamu . Ia melihat Luca dengan wajah terkejut. Walaupun hanya sepuluh hari mereka tidak saling tatap muka, Ayah Luca terlihat lebih tua. Kerutan di keningnya tampak jelas.

" Aku sangat menyesal!" John berteriak dari belakang, meminta maaf pada ayah Luca.

"Ayo, Luca, mari kita kembali ke kamarmu."

John menggengam lengan Luca dengan erat dan mencoba untuk menyeret dia pergi. Tetapi ayahnya menghentikan John dengan tatapannya dan menyuruh John keluar.

" Aku sedang memikirkan apa kita harus menyelesaikan ini sekarang."

Tinggal mereka berdua, Ayah Luca mencoba mengatasi rasa malunya.

" Kamu tidak lagi seorang anak kecil. Kamu berhak untuk mengetahui segalanya."

Suara ayahnya terdengar serius dan menakutkan. Tampak seolah-olah ia benar-benar ingin ceritakan kebenaran saat ini.

" Kita menderita serangan yang kuat. Ada suatu sekitar 24 kita yang pergi ke Muse, satu-satunya orang yang selamat adalah kamu, aku, Sara, dan dua pelayan. 19 lagi dibantai dengan brutal. Mereka dengan sengaja membiarkan Sara tetap hidup. Fakta bahwa kamu masih hidaup sekarang adalah mujizat."

Luca telah dikejutkan untuk dengar kerongkongan nya dan ini pergi kering. Kematian hanyalah di ujung tanduk waktu itu. Jika bukan untuk ibunya, ia pasti telah tidak diragukan mati di sana.

"Ibu… Ibu akan melarikan diri dari kereta. Tetapi dia berkata akan menghambatku, maka dia tinggal di dalam kereta untuk menarik perhatian bandit .

Ayah Luca mengangguk.

" Itulah ibumu. Sehingga hanya kamu yang ditemukan jauh dari tempat kejadian."

Ia berkata seolah-olah Ibu Luca sudah mati. Melihat sikap ayah tak peduli mengisi hatinya dengan benci. Ini tidak akan terjadi jika ayahnya datang menyelamatkan mereka. Sekarang, dia membicarakannya seperti orang luar.

"Karena kita tidak mempunyai saksi mata, kita tidak mengetahui secara detil bagaimana orang dibunuh satu persatu, tetapi semua wanita dibunuh setelah dikotori. Dan ibumu, juga, telah dikotori."

Luca tidak memahami perkataan ayahnya.

"Ayah, apa maksudmu dengan ' dikotori'? Apakah berarti pakaian mereka kotor?"

Wajah ayahnya menjadi merah padam.

"Kamu tidak perlu mengetahui apa maknanya! Bagaimanapun juga, Sara melewati pengalaman yang kejam dan menderita trauma mental."

" Kapan ibu akan pulih?"

Ayah Luca bisa hanya menggelengkan kepala nya untuk menanggapi.

"Tak seorangpun mengetahunyai. Luka ibumu sangat berat. Luka pada mentalitas hanya dapat diobati oleh korban sendiri."

"Tetapi, mengapa kamu tidak akan mengijinkan aku untuk lihatnya? Dia akan menjadi lebih baik jika melihatku. Sebab dia berkata dia mencintai aku!"

Air mata kembali membanjirinya. Itu adalah kata-kata terakhir dari ibunya dalam kereta . sebelum itu, dia tidak pernah berkata seperti itu, seolah-olah dia siap mati.

"Tolong, menjadi ayah! Biar saya pikir dulu ibu! Aku ingin lihat nya!"

Luca bisa lagi bertahan di tempat itu dan robohlah dia. Tanpa melihat hidungnya memerah, dia menangis terisak-isak.

"Berdiri, Luca Blight!"

Suara ayahnya terdengar seperti petir oleh dia. Suara tegas, tanpa keraguan. Luca bangun dan menghapus air matanya dan hidungnya dengan lengan bajunya.

"Aku memahami cintamu pada ibumu. Tetapi sebagai putra mahkota Kerajaan Highland, kamu tidak boleh kehilangan control akan hal-hal sepele."

" Sepele, kamu katamu…?"

" Kondisi ibu mu tidaklah fatal. Dia hanya memerlukan waktu untuk memulihkan. Dan tak seorangpun dapat membantunya. Itulah adalah sesuatu yang harus dilakukan dirinya. Kamu akan segera berumur 11 tahun. Itu adalah umur yang cocok untuk terlepas dari ibumu."

Ayahnya berdiri dan memeluk Luca. Luca menjadi pada tindakan ayahnya. Ayahnya belum pernah memeluk dia sebelumnya.

" Luca, ousatkan pada studi mu.Buat ibumu bangga. Itu adalah hal yang terbaik buat kamu untuk membayar kembali ibumu yang menyelamatkanmu.

Itu adalah ungkapan cinta terbesar ayahnya, tetapi Luca hanya bisa menerimanya dengan dingin. Tapi, masih ada yang membuatnya tak berhenti berpikir.

"Ayah, penyerbu sudah ditangkap?"

Wajah ayahnya dengan sepenuhnya berubah. Menjadi wajah politikus. Dia meletakkan kepalanya di bahu Luca.

“Kamu tidak perlu cemas akan itu. Sekarang ini, perbatasan di segel dan kita tak akan mebiarkan batu lewat dari penyelidikan. Mereka akan ditemukan sebentar lagi"

Kata-Kata itu tidak berbeda dari Mariel katakan, maksud tidak ada kemajuan sejak itu.

“Apakah kamu mencarinya dengan teliti?”

"Diam! Perilaku seperti itu tidak dapat ditoleransi!"

Tanpa berpikir, wajah ayahnya berubah menjadi marah.

“Bukan kamu saja yang membenci mereka – bahkan aku juga ingin meremukan mereka dari persendian ke persendian berikiutnya, dan itu masih belum cukup! Itu karena kita belum menemukan mereka…”

Ayahnya menutup mukanya karena malu. Luca hampir bisa merasakan kesedihan mendalam ayahnya. Luca tidak ingin melihat wajah ayahnya dalam keadaan begitu, ia mengalihkan pandangannya.

Barangkali dia tidak sadar, Luca perlu seseorang utuk menumpahkan semua pegalamannya. Dia merasakan mempunyai orang yang bis a diharapkan akan membuatnya merasa lebih baik. Dan itu lebih medah menudauhnya pada orang yang lebih dekar – dibandingkan orang yang belum pernah ia temui. Buat Luca, ayahnya cocok sekali. Tetapi melihat keadaan ayahnya membuatnya sulit membencinya.

“Itu sudah cukup, pergilah.” Kata ayah Luca dengan kepala menunduk.

Tetapi Luca tidak diijikan mengetahui yang paling penting diantara semuanya

“Hanya satu hal lagi. Dimana ibu sekarang?"

“Kamu tidak perlu mengetahuinya. Lakukanlah apa yng patut kamu lakukan sekarang."

Luca meninggalkan ruangan itu.
Back to top Go down
View user profile
pahing! Silent Mage
Chiretsu Star
avatar

Male Number of posts : 37
Age : 26
Location : Holy Kingdom Of Harmonia
Job/hobbies : Member The Wizard Of Odd/It's All About Music
Motto : Do Thing As They Come
Registration date : 2009-03-07

108 Stars of Destiny
108 SoD: The Wizard Of Odd

PostSubject: Re: Officially Luca Blight Childhood   Mon Apr 13, 2009 8:44 pm

Chapter 4 :
Agares Blight merasa gelisah. Putranya masih lebih kenakan-kanakan dari yang dia bayangkan.

Ia menceritakan pada putranya sesuatu yang bahkan akan membuat orang dewasa terkejut mendengarnya, sebab dia percaya bahwa anaknya tidak akan ditipu oleh hal-hal palsu. Agares berharap Luca berhenti mencari kenyataan tentang ibunya setelah mendengar kebenaran.
Tetapi, Luca bukan tipe orang yang begitu saja puas dengan satu pemecahan. Jika ia tahu dia mana ibunya berada, dia pasti dengan segera pergi menemuinya. Sejak kecil, Luca adalah tipe anak yang tidak mendengar satu ide saja. Mendidiknya lebih agak ia dapat melampaui Agares sebagai raja. Menurut instructor Han, ilmu pedang Luca sangat hebat sampai-sampai ia dapat mengalahkan 5 orang dalam satu pertarungan sendirian. Walaupun Han sudah tua, dia masih dikatakan sebagai ahli pedang yang paling hebat di Highland. Jika anak itu pergi bertualangan, masalah besar hanyalah kecil

Tetapi Agares tidak berani menunjukan apa yang terjadi dengan ibunya pada Luca. Dia berharap tidak mengecewakan anaknya lebih dari ini.

Agares mencintai putranya. Hanya kerena ia sangat sibuk, ia meninggalkan Luca pada ibunya dan Mariel. Ketika Agares memeluk putranya, badan putra menjadi kaku. Tentu saja. Seorang ayah yang tidak pernah berada disekitar putra nya mungkin juga akan menjadi orang lain. menjadi sangat tidak baik sekarang, bahkan suatu gemerlap benci bisa dilihat di mata putra nya. Jika Mariel di sekeliling, dia bisa menghentiankan Luca; tetapi dia berada di tempat jauh.

Agares membunyikan bel di atas mejanya.

"Perintahmu, Yang mulia?"

Seorang pelayan datang dengan segera.

"Perketat pengawasan terhadap Luca. Dan… Apa namanya lagi? Pengasuh Luca?"

"Maksudmu John?"

“Ya, membebaskan dia tugas-tugasnya dan pilih orang lain untuk mengasuh Luca. Seorang perempuan lebih tua akan lebih baik."

" Baik, Yang Mulia!"

Dan menguatkan perintah . Luca tidak boleh menemukan di mana Sara berada.

“Paham!"

Setelah membiarkan pelayan pergi, Agares sendiri lagi.

Ia telah melakukan segalanya yang ia bisa; tetapi keraguan dalam hatinya tinggal. Sebanyak yang dia rindukan pada istrinya. Sekarang dia berada di suatu tempat yang jauh yang tidak dapat dia capai.

Pengasuh barunya adalah yang terburuk.

Dia bukannya cerdas maupun pintar, dan meperlakukan Luca seperti anak kecil. Luca dimerinding dipanggil "Tuan Muda" olehnya setiap kali. Tetapi ia dapat mengatasi itu. Karena dia buta, jika Luca bersikap patuh, dia tidak bisa melihat apa yang sebenarnya dia lakukan.

Setengah tahun yang telah berlalu sejak peristiwa itu. Luca kini berusia 11 tahun.

Luca tidak ingat perayaan ulang tahunnya sama sekali. Ia hanya ingat duduk di siti dan menerima ucapan selamat dari ayahnya dan bawahannya, dan tanpa kehadiran ibunya. Biasanya, ibunya adalah orang pertama yang mengucapkan “Selamat Ulang Tahun, Luca!”

Ketika gigi susunya yang terakhir lepas, ia mengenang akan Mariel. Mariel. Meriel selalu membaca sebuah mantra dan membuang giginya keluar. Sambil menunggu dia kembali, Luaca menyimpak gigi susunya di sebuah kotak. Tanpa mantra pun, gigi Luca tumbuh dengan kuat.

Luca menemukan hobi baru.

Itu hanyalah kebetulan pada mulanya. Luca memukul mati lalat. Bahkan tanpa menggunakan terlalu banyak tenaga, mereka jatuh dengan cepat. Mengambil hidup sesuatu yang hidup adalah momen yang menjadi sumber kesenangan untuk Luca. Ia menguasai kekuatan untuk membunuh serangga; mengetahui bahwa hidup mati serangga semuanya tergantung pada suasana hatinya yang membuat dia merasa dapat melakukan apapun.

Dan sasaran berikutnya adalah laba-laba, kupu-kupu, dan kumbang - targetnya berangsur-angsur meningkat. Walaupun burung-burung, kelinci, dan anjing membrontak… ia akan jatuh masuk ke dalam lamunanya ketika menyiksa mereka; dan ketika ia sadar, ia akan menemukan mereka terpenggal-penggal. Melihat kaki kelinci yang berdarah-darah membuatnya merasa salah, tetapi ia tidak pernah dapat melupakan perasaan gembira ketika dia melamun, dan tidak dapat berrhenti melakukannya.

Penyerang pada malam itu masih belum tertangkap. Beberapa mengatakan bahwa mereka telah menghilang dan tak akan muncul di Kerajaan Highland lagi. Tentu saja. Ayahnya bersantai di tahtanya, memberi perintah; sedangkan dirinya tidak berbuat apa-apa. Itu adalah sama sekali bukan cara menangkap penjahat. Bahkan Luca sendiri sedang menangkap dan membunuh binatang dengan tangan miliknya; kenyataan Ayahnya tidak dapat berlaku demikian karena dia menyedihkan.

Luca sekarang tahu di mana ibunya berada - ia mendapatkan dari ocehan lepas pengasuhnya. Dia berada di villa kerajaan di Kota Kyaro, tempat yang sama yang mereka kunjungi setiap musim panas.

Ketika Luca mengetahui keberadaan ibunya, Luca membuat persiapan untuk keluar dari istana. Memanjangkan rambutnya, menyiapkan pakaian lama, mengumpulkan makanan, mendapat jalan keluar… dengan melakukan segala yang ia bisa, Luca bahkan mengikat kuda pribadinya di tempat lain dari kuda-kuda lain.

Siang itu dia selesai menyiapkan semuanya untuk menemui ibunya, Luca bangun sebelum siang. Dia segera berganti pakaian, dan meletakan makanannya di kantong. Botol air minumnya sudah dipersiapkan beberapa hari yang lalu. Mengikatkan tali di kaki tempat tidurnya, Luca membuka jendelanya dan turun dengan tali. Luca berusaha bersembunyi di semak-semak sampai ke kudanya. .

Segera melepaskan talinya, tapi tak ada waktu untuk berlama-lama. Dia mengambil pisau pendek dan memotong rambutnya dengan sembarangan. Setelah menutupi kuda dan tubuhnya dengan lumpur, mereka dengan sempurna menyamar. Penjaga gerbang yang melihat Luca, yang menarik kudanya sambil menuruni bukit, membiarkan dia keluar.

Sambil berkuda dipadang rumput dia merasakan kesegarannya.

Jalan besar itu sangat sepi di pagi itu, itu menjadi kepunyaan Luca seorang. Saat dia menarik nafas dalam-dalam, tercium bau musim gugur yng terasa seperti pohon yg terbakar, terbayang di pikiran Luca. Sudah satu setengah sahun sejak di bernapas dengan udara segar seperti ini.

Cuacanya cukup cerah, tidak panas juga tidak dingin. Perjalanan Luca berlangsung dengan santai. Meskipun ada beberapa monster yang menyerangnya tapi dia mengahabisinya tanpa sedikit masalah, yang sudah mahir berpedang. Luca bermaksud mengkonsumsi mayat mereka untuk menghemat persediaan makanan, meskipun mereka terlihat menjijikan.

Siang itu, Luca tiba di Tenza Pass. Setelah melewati jalan gunung, Kyaro akan tepat berada di sudut. Luca meletakan semua barang bawaannya di atas punggung kudanya dan mendaki bukit dengan kaki. Karena Luca mengendarai kuda tanpa besi U sepanjang jalan, punggungny sakit sekali sampai-sampai dia tidak dapat menahannya.

Luca mulai berkerigat. Tenggorokannya mengering, tapi dia hanya punya sedikit air. Luca mulai capek bergerak.

“Hei, anak kecil”

Luca berhenti ketika suara yang terdengar sok tahu memanggilnya. Sebuah kereta berhenti di jalan, seseorang dengan pandangan yang jahat berdiri di atasnya. Pria itu memandang Luca dengan sinis. Dengan segera Luca memutuskan untuk tidak terlibat, Luca dengan cepat berusaha menghindar.

“Hei, Bocah mau coba kabur ya? Aku ini cukup baik untuk turun ke sini? kau dan anak kuda itu kelihatan capek.”

Mendengar kata kuda Luca segera melihat kudanya, dengan busa di mulutnya, kuda itu pasti sangat capek. Itu pun karena Luca tidak memberinya banyak air.

“Bagaimana dengan ini? Aku punya sesuatu yang bagus.”

Pria itu mengeluarkan 2 buah pir dari keretanya. Mereka mungkin sedikit kecil, tapi di waktu bersamaan, mereka terlihat enak.

“Ini sangat enak. Hanya dengan satu gigitan, Rasa haus lu hilang dalam sekejap.”

“Boleh aku minta?”

Tanpa pikir panjang, Luca menerima tawaran pria itu.

“Betulkan, aku berikan padamu.”

Pria itu meletakan pir tersebut di tangan Luca. Luca memberi kudanya satu dan dengan segara melahap yang lain. Pirnya tidak terlalu manis, tapi jusnya membuat kerongkongan mereka menjadi basah.

“Pir yang bagus kan?”

Orang yang memandang sinis itu sedang dalam mood yang bagus.

“Benar, mereka sangat enak. Terima kasih banyak.”

Saat Luca membungkuk, pria itu mengulur tangannya.

“Harganya 500 potch. Hari ini aku sedang senang jadi harga murah.”

“Harga…?”

“Whoa, ayolah, mana ada orang baik yang memberikan barang gratis. Itu salah akukarena tidak memberitahumu tadi, tapi akuberusaha hidup juga.”

Luca tidak mengerti apa yang dikatakan pria itu. Sampai sekarang Luca belum pernah memberikan sesuatu sebagai balasan makanan. Tapi, Luca mengerti konsep potch sebagai uang. Dia belajar bahwa uang berfungsi sebagai alat tukar yang tinggi dalam kegiatan perdagangan.

“Maaf, aku tidak membawa uang sekarang.”

Raut muka pria itu langsung berubah.

“Apa maksudmu gak punya uang? Bajingan kecil, kau makan barangnya duluan! Buat apa aku berikan itu buat kau?! Jika kau gak mau bayar, kembalikan pir yang sudah kau makan tadi!”

Pria itu dalam posisi marah, Luca seumur hidup belum pernah di maki-maki seperti ini. Pria yang berdiri dia hadapannya sangat manakutkan.

“Jika aku punya kekuatan, aku tidak akan membiarkan di berlaku seperti ini.” Pikir Luca.

“Hei, apa maksudmumelamun. Bagaimana caramu membayar aku sekarang?!”

Pria itu menarik Luca dengan kasar dan mengguncangnya. Luca kehilangan nafasnya dan kepalanya pusing, dia hanya dapat merasakan ketakutan.

“A, A mengerti. Aku akan melakukan sesuatu.”

“Pria itu melepaskan tangganya. Kehilangan kesimbangan, pada saat itu juga Luca jatuh dengan kepala duluan. Perutnya ditendang membuatnya sulit bernapas. Dia siap memuntahkan semuanya dalam sekejap.

“Kau seharusnya mengatakan sejak awal. Aku akan mengambil kuda itu.”

Pria itu menarik tali kendali kuda itu dan mengikatnya di kereta.

“Setidaknya aku mengembalikan barangmu. Kau harus bergembira.”

Pria itu melempar barang bawaan Luca di depan mukanya, dan tanpa melihat kebelakang, kereta meluncur ke atas bukit.

Luca tidak dapat berkata sedikitpun, dia terus berbaring di jalan, melihat kedepan. Kuda itu adalah hadiah dari orang tuanya pada ulang tahun ke tujuh. Mereka selalu bersama sejak saat itu.

Itu sangat memalukan. Luca merasa dirinya tak berguna. “Aku akan membunuhmu,” terlintas di kepalanya, membuatnya bigung. Membunuh orang adalah sesuatu yang tidak boleh dilakukan.

Dia menundukan kepalanya dengan malu. Ini sama dengan perasaaan sebelum dia berangkat.

Luca merasa sedikit baikan ketika ia sampai di puncak bukit. Pemandangannya sangat indah. Dari sini, rute ke tempat ibunya di Kyaro menuruni bukit. Luca kan meminta ibunya seekor kuda lagi. Mungkin lain kali dia akan mendapatkan yang lebih besar.

“Mungkin dia akan memarahiku dulu, tapi aku pasti dia akan gembira.”

Memikirkan tentang ibunya membuat semangatnya kembali. Hari itu, Luca terus berjalan sampai dia tertidur.

Keesokan harinya, Luca melanjutkan perjalanannya sambil mencari air. Dia sudah menghabiskan semua air di botolnya senja tadi. Setelah sedikit memutar, dia mendengar bunyi aliran air . Dia berjalan keluar dari lintasan menuju hutan, dia menemukan pancaran air, setipis rambut, memancar diantara tumpukan batu. Dia mencoba menampung air tersebut tapi sia-sia. Ada sebuah sumber air, tetapi bercampur lumpur dan keruh, air itu tidak terlihat bersih. Luca menyerah dan memutuskan bertahan sampai ke Kyaro.

Saat dia kembali ke jalan utama, matanya tertuju dengan warna ungu di sudut. Kelihatan ganjil, dia mendekatinya dan menemukan seonggok bunga ungu dan hampir setinggi dadanya, Bunga Aster yang tumbuh dengan lebat di tempat itu.

Luca tidak begitu tertarik dengan bunga, setidaknya dia tahu nama bunga itu – mereka adalah bunga kesukaan ibunya. Setiap musim gugur, dia akan pergi ke gunung bersama dengan beberapa pelayan, dan mendekorasi kastil dengan Aster yang dia petik sendiri.

“Ugh, bunga liar itu lagi…,” Ayah Luca sering kali menggoda ibunya setiap tahun. Dan ibunya akan selalu menjawab “Tentu saja! Mereka menyimpang banyak kenangan!” saat itu juga mukanya langsung memerah dengan senyuman besar.

Wajah itu terbayang oleh Luca. Luca sangat menyayangi ibunya. Ia ingin melihatnya, memeluknya dengan erat.

Luca memetik beberapa Aster sebagai cendramata untuk ibunya dan segera kembali ke jalan setapak.

TO BE CONTINUED!
Back to top Go down
View user profile
dewam
Chikou Star
Chikou Star


Male Number of posts : 1
Age : 28
Location : bandung
Registration date : 2009-09-02

PostSubject: Re: Officially Luca Blight Childhood   Wed Sep 02, 2009 12:22 pm

lagi dong cerita'a...
penasaran nih !!!
Back to top Go down
View user profile
freyja
Chikou Star
Chikou Star


Male Number of posts : 1
Age : 24
Location : HIGHLAND
Registration date : 2010-09-08

PostSubject: Re: Officially Luca Blight Childhood   Wed Sep 08, 2010 6:38 pm

plissss lanjutin ceritanya,,,,,,klo ga kasih link ceritanya plissss,,,,,penasaran ene,,,,
Back to top Go down
View user profile
Sponsored content




PostSubject: Re: Officially Luca Blight Childhood   

Back to top Go down
 
Officially Luca Blight Childhood
Back to top 
Page 1 of 1

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Stars of Destiny Indonesia :: Suikoden Series :: Suikoden 2-
Jump to: